Mengenal Lebih Dekat Jalan Palagan Tentara Pelajar Sleman, Yogyakarta

Published by hmgp.geo on

Muhammad Adrian Majiid

adrian.majiid@mail.ugm.ac.id

Divisi Riset dan Keilmuan HMGP UGM 2022 Pembangunan Wilayah, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada

Pembangunan wilayah tidak dapat lepas kaitannya dengan fasilitas atau infrastruktur transportasi, khususnya ketersediaan dan kualitas jalan. Infrastruktur jalan berfungsi untuk memberikan akses kepada masyarakat dalam menjangkau berbagai lokasi serta menunjang pemenuhan kebutuhan sehari-hari (Wunas dan Natalia, 2015). Jalan juga menjadi penghubung antar wilayah yang memungkinkan terjadinya interaksi regional. Kabupaten Sleman sebagai kabupaten yang terus mengalami perkembangan dilengkapi dengan infrastruktur jalan yang cukup memadai. Terdapat tiga jalan utama yang menjadi penyokong mobilitas masyarakat dan komoditas di Kabupaten Sleman, yaitu Jalan Magelang di sisi barat, Jalan Kaliurang di sisi timur, dan Jalan Palagan di bagian tengah.

Jalan Palagan atau lengkapnya Jalan Palagan Tentara Pelajar merupakan jalan kolektor yang penting bagi dinamika wilayah Kabupaten Sleman. Jalan ini membentang dari area Monjali (Monumen Jogja Kembali) di selatan, atau lebih tepatnya pada koordinat 7°45’02.8″LS 110°22’17.1″BT, hingga daerah Pulowatu di utara, atau lebih tepatnya pada koordinat 7°39’35.7″LS 110°23’42.7″BT. Jalan dengan panjang 11 Kilometer ini memiliki status berupa Jalan Provinsi 44. Secara administratif, Jalan Palagan Tentara Pelajar dibangun di atas beberapa kecamatan di Kabupaten Sleman, seperti Kecamatan Pakem, Kecamatan Turi, dan Kecamatan Ngaglik, dimana hampir 87% dari total panjang jalan berada di Kecamatan Ngaglik. Jalan Palagan Tentara Pelajar memiliki ruas jalan selebar 6 m dengan lebar masing-masing lajur sebesar 3 m. Jalan Palagan Tentara Pelajar dibuat pada struktur tanah humus yang hampir di setiap sisi jalan selalu terdapat area persawahan. Jalan ini memiliki kemiringan konstruksi yang cukup rendah dan akan semakin tinggi elevasinya di sisi utara. Hal ini wajar karena di sisi utara Kabupaten Sleman terdapat Gunung Merapi sehingga semakin ke utara elevasi lahan di Kabupaten Sleman akan semakin bertambah.

Jalan Palagan Tentara Pelajar harus menempuh sejarah kelam untuk mendapatkan namanya saat ini. Pada masa pasca kemerdekaan, lebih tepatnya pada 29 Mei 1949, terjadi pertempuran sengit antara Tentara Pelajar Indonesia melawan pasukan Belanda. Dilansir dari Fornews, Suparjo (79) mengatakan bahwa Tentara Pelajar Brigade 17 atau TP BE-17 sempat menerima kabar bahwa pasukan Belanda yang bermarkas di Beran akan melakukan penyerangan di Daerah Rejodani. Sayangnya, saat itu pemuda Rejodani sedang berada di Kaliurang untuk melakukan penyerangan sehingga di Rejodani hanya tersisa 10 orang Tentara Pelajar. Pasukan TP BE-17 yang berjumlah 10 orang itu lantas segera bersembunyi dan menyiapkan posisi di balik parit di sisi timur karena telah mengetahui Belanda akan datang dari barat.

Sekitar pukul 07.00 WIB pertempuran sengit antara Tentara Pelajar dan Belanda terjadi. Semangat dan kegagahan para Tentara Pelajar Brigade 17 dicurahkan dalam baku tembak tersebut. Pasukan Belanda memanggil bantuan pasukan lain yang berada di Kledokan, Pakem. Pasukan Belanda segera bergerak dengan tanggap dan menaiki truk melewati Dusun Sardonoharjo dari sisi timur. Hal ini membuat pasukan TP BE-17 harus menghadapi pasukan Belanda dari dua arah. Menurut Suparjo, bunyi rentetan senjata dan bom dapat terdengar hingga lebih dari satu kilometer. Sekitar pukul 10.00 WIB, pertempuran telah usai. Suparjo yang saat itu berusia belum genap sepuluh tahun, memastikan apakah kondisi sudah aman atau belum. Suparjo melihat ada dua Tentara Pelajar yang berhasil kabur secara sembunyi – sembunyi menyelamatkan diri ke Dusun Pothon. Dua Tentara Pelajar itu bernama Martono dan Rujito. Suparjo menghampiri lokasi pertempuran dan melihat enam orang pasukan TP BE-17 tergeletak di dekat parit sementara dua orang Tentara Pelajar lain gugur terbaring di jalan. Delapan orang Tentara Pelajar ini adalah Harsono, Soewono, Soekapdi FX, Soeroyo, Sopanato, Daryono, Soenarto, dan Alibasjah. Namun, di sisi pasukan Belanda juga mengalami kerugian yang banyak. Diperkirakan ada sebanyak 21 pasukan Belanda yang tewas pada pertempuran itu, termasuk pimpinan mereka, Kolonel van Muller. Untuk mengenang jasa serta perjuangan para Tentara Pelajar yang telah berkorban dan berjuang pada pertempuran di Rejodani, maka didirikan Monumen Medan Laga Rejodani, lebih tepatnya di sisi barat jalan, di Desa Sariharjo. Keberanian pasukan Tentara Pelajar ini juga diabadikan dalam nama jalan sebagai saksi bisu dari pertempuran yang terjadi di Rejodani. Kata “Palagan” pada Jalan Palagan Tentara Pelajar berarti sebuah medan laga atau medan pertempuran yang merupakan serapan dari bahasa Jawa.

Kini Jalan Palagan Tentara Pelajar menjadi salah satu jalur penyokong kehidupan masyarakat Kabupaten Sleman. Keberadaan Jalan Palagan Tentara Pelajar ini dipandang penting karena banyaknya objek pelaku ekonomi yang berdiri di sepanjang jalan tersebut. Situasi sekitar ruas jalan ini merupakan area pertokoan (Putra, 2020). Mulai dari toko kelontong, toko swalayan, toko sayur, toko perabotan rumah tangga, toko grosir, toko elektronik, toko kebutuhan pertanian dan peternakan, hingga pasar tradisional. Setiap toko melayani tingkat kebutuhan yang berbeda-beda. Melalui adanya industri komersial ini, kemampuan ekonomi masyarakat dapat ditingkatkan. Berkaitan dengan unsur sosial budaya, masyarakat yang tinggal di sekitar Jalan Palagan Tentara Pelajar ini dapat dibagi ke dalam 2 jenis bentuk permukiman, yakni permukiman kampung dan permukiman perumahan. Ada istilah menarik terkait permukiman perumahan ini, yaitu gated community. Perumahan yang mengusung konsep one-gate system sebagai alasan menjaga keamanan makin populer (Adhitama, 2020). Kawasan gated community bertujuan mencegah masuknya orang asing menuju area pribadi penghuni sehingga memberikan keamanan melalui pagar, portal, dan pembatas lainnya. Nihil (2016) dalam Ischak (2016) menyebutkan gated community sebagai perumahan yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang sehingga mendukung munculnya gejala privatisasi terhadap ruang-ruang di kota. Perumahan ini umumnya terletak berdampingan dengan permukiman perkampungan. Kondisi lingkungan sosialnya cukup beragam. Ada yang tidak terlalu memperdulikan batasan fisik antar masyarakat dan dapat berbaur dengan baik, tetapi ada pula yang cukup mengurus urusan di dalam area permukimannya saja. Hal ini tentu tidak menjadi masalah asal tidak ada rasa benci atau etnosentrisme yang dapat menimbulkan konflik.

Beralih pada bentuk bangunan permukiman yang ada pada kawasan gated-community di sekitar Jalan Palagan Tentara Pelajar, terdapat beberapa macam kawasan gated-community dilihat dari skala atau ukuran areanya. Mulai dari perumahan dengan jumlah rumah kurang dari 20 rumah, perumahan dengan sistem blok, kawasan residential, hingga komplek apartemen dan hotel. Terdapat beberapa hotel di Jalan Palagan Tentara Pelajar seperti Indoluxe Hotel yang berada di utara persimpangan Monjali, The Alana Yogyakarta Hotel, dan Hyatt Regency Yogyakarta yang memiliki fasilitas lengkap seperti danau buatan, lapangan golf, bar, dan lain sebagainya. Terdapat pula perumahan kelas menengah ke atas, seperti Perumahan Citra Rejodani Residence, Perumahan Fasco Mansion, Perumahan Taman Palagan Asri 3, dan Hyarta Residence. Beberapa dari perumahan ini telah menerapkan sistem blok dikarenakan banyaknya bangunan rumah. Selain sistem gated-community dan permukiman perkampungan, masyarakat sekitar juga masih banyak yang mendirikan rumah bersebelahan langsung dengan Jalan Palagan Tentara Pelajar, berbentuk linier mengikuti perkembangan jalan. Selain dari bangunan permukimannya, di sepanjang Jalan Palagan Tentara Pelajar juga terdapat fasilitas pendidikan yang lengkap. Mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), hingga sekolah tinggi seperti Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Yayasan Keluarga Pahlawan Negara atau STIM YKPN yang berada di seberang Hyarta Residence.

Keberadaan berbagai unsur penunjang ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan di Jalan Palagan Tentara Pelajar ini menjadi salah satu penentu bagaimana pengaruh Jalan Palagan pada perkembangan Kabupaten Sleman. Masih banyak lahan kosong di sepanjang Jalan Palagan Tentara Pelajar yang tentunya dapat diolah menjadi pusat kegiatan ekonomi lainnya. Ditambah pula dengan kemunculan berbagai cafe, eatery, dan roastery yang saat ini menjadi tempat favorit kalangan muda untuk mengadakan meeting, belajar bersama, diskusi, atau sekadar nongkrong di waktu luang. Dari sisi transportasi juga semakin memudahkan masyarakat dalam melakukan mobilisasi karena telah dibangunnya SPBU Balong di Dusun Balong, Desa Donoharjo, sebagai SPBU baru di Jalan Palagan Tentara Pelajar. Hal ini penting karena sejatinya jalan juga merupakan kelengkapan transportasi yang sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kemajuan pembangunan yang ada di tiap daerah (Ansori, E dan Putra, K.H, 2019). Dengan adanya berbagai fasilitas penunjang ini, Jalan Palagan Tentara Pelajar diperkirakan akan memiliki prospek yang baik di masa mendatang.

 

 

Sumber foto: Dokumentasi pribadi (M. Adrian Majiid)

Referensi:

Adam dari Fornews.co. (25 Februari 2021). Asal-usul Dibuat Monumen Medan Laga Rejodani TP BE-17. (Diakses pada 22 Juli 2022). https://fornews.co/news/asal-usul- dibuat-monumen-medan-laga-rejodani-tp-be-17/

Adhitama, S. Y. (2020). Eksklusivitas “Semu” Perumahan Gated Community di Kota  Yogyakarta: Privatisasi Tak Sempurna dalam Keterbatasan. Majalah Citrakara Mandala Himpunan Mahasiswa Geografi Pembangunan. Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada.

Ansori, E dan Putra, K.H. (2019). Analisis Laik Fungsi Jalan Pada Ruas Jalan Gresik Kota Surabaya Guna Mewujudkan Jalan Berkeselamatan. Seminar Teknologi Perencanaan, Perancangan, Lingkungan, dan Infrastruktur. Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Ischak, M. (2016). Karakteristik Ruang Sosial di Permukiman Enclave Curug Sangereng, Tangerang. Prosiding Seminar Nasional Sustainable Architecture and Urbanism 2016 Universitas Diponegoro. Hal. 114-126.

Putra, M. A. Z. (2020). Analisis Dampak Lalu Lintas (ANDALIN) Pembangunan Underpass Kentungan. Teknik Sipil, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Wunas, S dan Natalia, V.V. (2015). Pembangunan Infrastruktur Transportasi di Kota Makassar. Fakultas Teknik, Universitas Hasanuddin. Makassar. 

Categories: Publikasi

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.